Setiap orang memiliki motivasi yang berbeda-beda untuk mengedit foto. Bagi saya editing itu bertujuan untuk :
- Memperbaiki foto yang ada mungkin karena kamera dan lensa kita tidak bisa menangkap foto dengan baik. Misalnya lensa foto kita kurang tajam, atau perbedaan terang-gelap yang terlalu ekstrim sehingga tidak bisa ditangkap dengan baik oleh sensor kamera
- Membuat suasana/mood yang berbeda, misalnya membuat mood terkesan tua, suram, atau sebaliknya, semangat, antusias, heboh dan lain lain
- Membuat orang yang melihat foto kita fokus ke satu subjek daripada subjek yang lain atau latar belakang
Jenis fotografi yang memiliki aturan ketat adalah fotojurnalisme, dimana seorang fotografer harus menampilkan foto apa adanya sesuai realitas yang ada. Tapi ada juga jenis fotografi komersial yang justru mengunakan editing dan manipulasi foto untuk mendapatkan foto yang diinginkan. Fotografi komersial seperti untuk iklan. Manipulasi foto justru dianjurkan karena efisiensinya.
Contohnya daripada harus membawa model ke pantai, atau lokasi tertentu, maka fotografer komersial akan foto subjek tersebut di studio dan kemudian di gabungkan dengan foto pantai sebagai latar belakangnya. Hal ini menghemat ongkos, tenaga dan waktu.
Untuk foto travel / jalan-jalan, editing yang sukses adalah bisa memberikan kesan suasana atau mood tertentu. Misalnya foto bangunan kuno biasanya lebih bagus dan dramatis bila saturasi warnanya rendah atau monokrom. Bila kita foto acara budaya dengan pakaian tradisional yang berwarna-warni, maka editan dengan saturasi tinggi tentunya lebih cocok.
Bangunan kuno di Italia oleh Joshua Brown mengunakan warna monokrom dan sedikit warna coklat / sepia untuk memberikan kesan tua.
Sebenarnya bebas-bebas saja dalam mengedit foto, yang penting editan kita harus bisa memperkuat foto kita dan mengambarkan suasana/mood yang sesuai. Bila tidak, foto yang sudah baik malah menjadi tidak begitu baik dan membingungkan.
Setiap foto juga membutuhkan perlakuan yang berbeda, kita tidak bisa memaksakan perlakuan yang sama untuk semua foto dan mengharapkan mendapatkan foto yang bagus. Bagi fotografer pemula yang kurang pede, yang penting jangan terjebak dengan tren edit gaya tertentu dan ikut-ikutan. Kita punya pilihan untuk mengedit sesuai indentitas kita dan mengembangkan gaya sendiri.
Oke, daripada saya berteori ria terus, mari kita lihat contoh-contoh editan hehe
Gambar langsung dari kamera terlihat sangat
kontras dan banyak detail langit yang hilang karena pengambilan foto
dilakukan di siang bolong
Di dalam proses editing, saya mengembalikan
detail langit, menerangi bagian dalam kelenteng yang terlalu gelap,
mengurangi saturasi warna dan memberikan sedikit sentuhan warna kuning
dan hijau. Tujuan editing untuk foto ini adalah memperbaiki foto yang
terlalu kontras dan memberikan suasana adem dan kesan tua.
Foto yang diambil dan di edit Harianto Keng
ini, memiliki saturasi warna yang relatif rendah. Fokus orang yang
melihat langsung ke model yang merupakan bagian yang paling terang.
Latar belakang yang kabur juga membantu fokus kita ke model. Warna putih
memberikan kesan murni dan tidak berdosa seperti bidadari yang turun
dari langit. Yang kurang dari foto ini mungkin sayapnya aja. Mungkin
itulah kesan yang ingin disampaikan Harianto
Model yang sama di foto dan di edit oleh
fotografer berbeda, Hendra Susanto, memberikan kesan yang berbeda,
saturasi warna foto ini relatif tinggi, membuat model foto terlihat
lebih dominan, aktif dan agresif. Warna merah pada rambut yang terlihat
menonjol merepresentasikan jiwa pemberontak. Komposisi foto satu badan
menonjolkan keseksian daripada karakter/kepribadian. Hanya yang
disayangkan, bila warna bajunya merah, tentunya lebih melengkapi suasana
foto yang ingin disampaikan Hendra
No comments:
Post a Comment
Please leave a comment