Showing posts with label Fotography. Show all posts
Showing posts with label Fotography. Show all posts

Thursday, July 19, 2012

Ber-SILUET ria

Tadi sore saya berkunjung kesebuah tempat wisata dijakarta timur tepatnya TMII. Saya bepergian bersama Om, tante dan sepupu saya. Niat awal kesana hanyalah untuk berjalan- jalan sore. Ehh ternyata sesampe disana kami bertemu dengan seorang Pelukis yang juga pandai membuat Siluet di sebuah toko souvenir. Kami melihat seluruh isi ruangan yang penuh dengan lukisan dan siluet yang indah. Setelah melihat hasil karya pelukis tersebut, saya tertarik untuk membuat Siluetnya, setelah berunding dengan Om, tante dan sepupu saya, kami bertiga akhirnya sepakat untuk membuat Siluet. Nah dari pada penasaran mending langsung liat aja nih hasil siluetnya.
My uncle Aryo

My aunt Hera

Me


n' he is my cousin Fathan

Wednesday, June 27, 2012

20 Tips Komposisi Agar Foto Makin Keren

Komposisi dalam bidang seni apapun adalah ibarat selera akan makanan, semua kembali ke preferensi  masing-masing. Namun begitu, ada beberapa panduan tertentu yang tak lekang waktu dan ikut di amini oleh mayoritas pelaku.
Duapuluh tips singkat komposisi untuk fotografi berikut disarikan dari beragam sumber tulisan serta buku fotografi dan semoga pembaca bisa menambah atau menguranginya dengan mengisi komentar di akhir tulisan. Isinya bukan aturan tapi panduan, karena sekali lagi komposisi adalah masalah selera.
  1. Tarik perhatian ke arah subyek utama dalam foto. Manfaatkan warna, bentuk, cahaya atau garis supaya foto tampak kuat dan menyedot perhatian2918681424_4ebd1a42dc_m
  2. Sederhana, makin sederhana susunan foto anda makin kuat kesan yang ditimbulkan 853806749_b775c85369
  3. Kurangi elemen yang tidak seirama. Jika menurut anda ada elemen tertentu yang merusak irama dan keharmonisan foto, singkirkan – tutupi – atau pindahkan sudut pemotretan supaya elemen tersebut hilang istock_000009494535small
  4. Penuhi seluruh isi frame dengan obyek utama. Kadang foto yang kuat kesannya adalah foto yang tanpa background sama sekali istock_000010211189xsmall
  5. Jangan biarkan ruang kosong mendominasi foto 3909629229_bce2a169b5_m
  6. Cek daerah disekitar garis frame, jangan biarkan ada tangan, kaki atau bagian penting obyek terpotong tanpa alasan kuat
  7. Maksimalkan penggunaan point of view (titik pandang) yang menarik, jangan melulu memotret dari depan subyek istock_000003706484xsmall
  8. Jangan lupa rule of third. Tarik garis imajiner yang membagi foto menjadi 9 bagian sama besar. Tempatkan obyek utama di persimpangan garis-garisnya2958127042_a5f79e9b29_o
  9. Saat memotret orang, usahakan selalu agar mata berada diatas garis tengah foto istock_000003558969xsmall
  10. Bagian paling terang dalam foto adalah bagian yang paling menyedot perhatian mata. Taruh obyek utama disana Sandcastle on Morro Strand State Beach, with Morro Rock visible in background, after sunset 24 Aug 2009
  11. Background lah yang memperkuat kesan. Jadi jangan biarkan background mematikan obyek utama. Baca lebih jauh tentang background disini.2985066755_a23e402f28_m
  12. Memotret secara horisontal memperkuat kesan lebar dan secara vertikal memperkuat kesan tinggi
  13. Tajamkan mata untuk mengenali pola yang berulang, manfaatkan  22348414_9769281ba9_m
  14. Tajamkan mata untuk mengenali pola simetri, manfaatkan 350058516_10387c7459_m
  15. Leading line dan kurva-S selalu menyenangkan dilihat istock_000011126150xsmall
  16. Untuk memotret anak-anak, jongkoklah. Sejajarkan kamera dengan mata mereka DSC_3897b
  17. Hindari menaruh titik perhatian tepat ditengah-tengah foto
  18. Hindari meletakkan garis horison tepat di tengah foto, usahakan horison ada di sepertiga atas atau bawahDelineated
  19. Jangan biarkan garis horison menabrak bagian obyek yang penting
  20. Cek, cek dan cek lagi sesaat sebelum memencet shutter. Pastikan apa yang tampak di viewfinder sesuai keinginan andaHydrant

Tips Foto Hitam Putih


Foto hitam putih adalah salah satu jenis foto yang tak lekang oleh waktu. Tanpa adanya elemen warna yang mengganggu, kadang foto hitam putih justru lebih kuat membekas di benak yang melihatnya. Orang sering bilang lebih dramatis dan elegan (itulah kenapa fotografer wedding selalu menyertakan beberapa foto hitam putih dalam album yang diserahkan ke klien). Berikut adalah tips memotret foto hitam putih yang mungkin berguna bagi anda:
  1. Potretlah dalam mode warna – Kamera digital menghasilkan rentang tone yang lebih lebar dalam mode warna karena dalam mode ini sensor mengambil data dari 3 channel – Red, Green dan Blue atau RGB. Untuk itulah, foto hitam yang dihasilkan dari pengolahan foto warna menggunakan photo editor di komputer akan cenderung lebih baik kualitasya 519690623_3997539eb4
  2. Setting ISO serendah mungkin – Noise (bintik-bintik kecil putih yang muncul di foto anda) akan tampak lebih menonjol dalam foto hitam putih dibanding dalam foto warna. Gunakan ISO serendah mungkin supaya pada saat foto di proses nantinya, noise bisa diminimalkan.
  3. Mendung adalah saat terbaik – Adanya mendung akan membuat kontras lebih rendah, dan ini adalah saat terbaik untuk membuat foto hitam – putih. Anda tidak akan terlalu perduli warna langit yang abu – abu, toh dalam foto hitam putih tidak akan terlalu terlihat. 3393996603_4c1ac6e74a
  4. Eksploitasi tekstur, pola dan garis – Dalam foto hitam putih, tekstur – pola dan garis akan lebih terlihat menonjol dan semakin menarik. Untuk itu eksploitasi-lah jika anda menemukan adanya komponen tersebut. 2825096567_af984f9725
  5. Sidelighting adalah cahaya terbaik – Ketika memotret di luar ruangan untuk foto hitam putih anda, tonjolkan bentuk secara maksimal dengan mengandalkan pencahayaan samping (sidelighting), sehingga jatuh bayangan jadi sangat menarik. Sidelighting terjadi saat anda memotret di pagi atau sore hari.

Pilih kamera mu !

Pilih kamera mu !
Ok… Yang paling dibutuhkan untuk hobi yang satu ini yang paling utama merupakan “NIAT” dan baru yang kedua adalah kamera… Kenapa ? Karena ada beberapa penggemar fotografi yang akhirnya “menyerah” menekuni hobinya karena kamera yang kurang “mumpuni” disini yang paling penting adalah “niat” dengan niat yang cukup kamera apapun akan “cukup” untuk memenuhi hasrat mengumpulkan frame demi frame yang indah…
Secara teknologi ada dua jenis kamera :
  1. Kamera analog
FJCS36Kamera jenis ini masih menggunakan media film sebagai penyimpanan frame yang diambil, jenis kamera ini sudah mulai banyak ditinggalkan karena biaya yang relatif mahal untuk perawatan serta operasional nya. Tetapi masih ada beberapa die hard yang masih memakai kamera tipe ini karena memang ada beberapa tehnik yang cuma bisa dilakukan dengan kamera jenis ini.
2. Kamera digital.
Kamera jenis ini merupakan main stream sekarang. Hampir 90% dari kamera yang kita lihat saat ini adalah kamera digital. Kamera tipe ini menggunakan media penyimpanan digital untuk penyimpanan frame biasanya berupa memory card, compact flash, atau bahkan harddisk. Biaya operasional kamera ini paling murah karena hasil frame dapat disimpan dalam media digital yang tidak memakan banyak tempat dan perawatan minimal.
Ada beberapa jenis kamera digital yang dapat dipilih saat ini antara lain :
  • Digital pocket point and shot
071809_0153_Tutorialfot2.jpgJenis kamera digital ini merupakan jenis yang paling sederhana sesuai namanya kamera ini dapat digunakan sesederhana point & shot tidak ada penyetelan tingkat lanjut yang aneh” yang dapat membingungkan user-nya… umumnya digunakan oleh pemula ataupun sekedar untuk mengambil foto” biasa. Walaupun saat ini sudah mulai banyak kamera point & shot yangdilengkapi fitur beraneka ragam tetapi jenis kamera ini masih kurang cukup untuk mendapatkan foto” kreatif yang memerlukan teknik” tertentu.
Pro : Kompak, Sederhana
Kontra : Spesifikasi cenderung rendah
  • Digital Prosumer
071809_0153_Tutorialfot3.jpg Jenis yang satu ini satu tingkat lebih tinggi daripada kamera point & shot biasa. Biasanya dilengkapi dengan sensor lebih baik serta spesifikasi lain yang lebih tinggi. Tidak jarang juga kamera jenis ini dilengkapi dengan focal length (zoom) yang cukup tinggi. Memiliki lebih banyak setting yang dapat membantu pengambilan foto” kreatif tapi juga masih dilengkapi berbagai macam fitur” yang dapat membantu pengguna pemula untuk mendapatkan foto yang lebih baik. Perlu diingat kamera tipe ini umumnya menggunakan fixed lens sehingga pengguna dibatasi dengan lensa tertentu.
Pro : Cocok untuk entry fotografer
Kontra : Cenderung lebih besar dan berat dibanding kamera point & shot
  • DSLR (Digital Single Lens Reflect)
071809_0153_Tutorialfot4.jpgJenis ini yang biasa digunakan oleh para fotografer baik pemula sampai profesional. Menggunakan interchangeable lens sehingga sebuah body DSLR dapat diganti” dengan berbagai jenis kamera yang berbeda” tipe. Tipe ini masih memiliki beberapa jenis lagi.
# Sensor Crop Factor
Menggunakan sensor yang lebih kecil dari film 35mm. tergantung kerapatan pixelnya sensor ini sudah lumayan bagus untuk sebuah DSLR serta memiliki keuntungan dalam pemotretan tele karena crop factornya misal dengan menggunakan lensa berfocal length 200mm pada body DSLR yang memiliki crop factor 1.5x maka kita dapat mendapatkan focal length maximum hingga 300mm.
# Sensor Full Frame
Menggunakan ukuran sensor yang sama dengan film 35mm biasanya diikuti dengan kemampuan sensor yang tinggi sehingga dapat menghasilkan kualitas foto yang tinggi.
#Medium Format
Memiliki sensor yang lebih besar daripada film 35mm kamera tipe ini biasanya digunakan untuk keperluan” khusus yang mewajibkan hasil cetak dalam ukuran yang teramat sangat besar.
Pro : Interchangeable lens, Accesoris yang berlimpah, kualitas foto yang tinggi
Kontra : Harga cenderung lebih mahal, Operasi yang cenderung lebih rumit
  • Kamera SLD(Single Lens Direct ?)/FT(Four Third)/MFT(Micro Four Third)
071809_0153_Tutorialfot5.jpgIni merupakan jenis kamera yang terbaru. Menyerupai DSLR dengan interchangeable lens kamera ini memiliki mekanisme yang berbeda dengan DSLR, lebih ringan dan kecil dibandingkan DLSR namun memiliki kualitas foto yang hampir setara dengan DSLR menempatkan kamera ini sebagai generasi masa depan dari kamera.
Pro : Kualitas DSLR ukuran pocket point & shot
Kontra : Harga yang masih cukup tinggi.
Sekarang tinggal memilih jenis kamera yang sesuai dengan kebutuhan anda dan tentunya dengan budget anda.

Tuesday, June 26, 2012

Buseett!!! Kamera Seharga 300 Juta!!! Gak Salah Neeech…!!

[UNIKNYA.COM] Gak salah. Ada kamera bernama Leica M9 keluaran perusahaan Leica. Dan kabarnya lagi Leica M9 ini sudah dijual di Indonesia sejak tahun 2010.


Leica M9 (Sumber:bjp-online.com)

Leica M9 dengan 18 MP adalah kamera jenis Rangefinder pertama di dunia dengan menggunakan sensor Full-Frame 24×36 mm yang biasanya hanya kita bisa temukan di kamera DSLR kelas profesional. Sensor ini mempunyai beberapa keunggulan seperti hasil foto yang lebih baik terutama bila di dalam ruangan kurang cahaya, yang kami maksud disini jauh lebih baik dibandingkan sensor CMOS tentunya.
Bodinya saja, tanpa lensa, dijual dengan harga Rp70 juta. Sedangkan lensa normal Leica M9, ukuran 50mm, seharga belasan juta rupiah, tapi itu baru “lensa biasa.” Kalau lensa standar atau “lensa sesungguhnya” yang layak dipasangkan pada kamera digital ini adalah lensa 50mm Noctilux dengan bukaan diafragma f/0.95 yang dijual dengan harga … lebih dari Rp100 juta! Seratus juga rupiah hanya satu lensa kecil! Maka wajar jika kemudian disebut bahwa Leica M9 adalah kamera digital yang paling mahal harganya.

Apakah ada orang yang mau mengeluarkan 300 juta lebih untuk membeli kamera seperti ini? (**)

Foto yang bagus?

Pertanyaan “foto bagus itu foto yang bagaimana?” atau “bagaimana membuat foto yang bagus?”
Fotografi, pada hakekatnya adalah salah satu bentuk media untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Fotografi banyak persamaan dengan menulis. Di dalam menulis, kita memilih kata-kata dan kemudian merangkainya dalam bentuk kalimat. Di dalam fotografi, kita mengunakan elemen visual (garis, bentuk, pola, warna, cahaya, dll) dan kemudian merangkainya dengan komposisi (aturan sepertiga, garis, perspektif, fokus, bingkai, dll).
Tulisan yang dianggap baik adalah tulisan yang tidak bertele-tele, melainkan jelas dan dapat dimengerti oleh pembacanya. Tulisan yang bagus memiliki ide & makna yang menarik. Tulisan yang baik memiliki organisasi tata bahasa yang rapi sehingga mudah dibaca dan dipahami.
Sama dengan tulisan yang bagus, fotografi yang baik perlu suatu subjek dan ide yang jelas serta tidak ada elemen yang mengganggu. Fotografi yang baik memiliki organisasi komposisi elemen-elemen visual dengan baik.
Intinya foto yang bagus adalah foto yang sesuai dengan niat kita masing-masing. Contohnya, jika kita ingin membuat suasana yang misterius dan angker, foto dengan nuansa yang gelap lebih cocok daripada nuansa yang terang. Jika ingin foto kita membuat perubahan, misalnya kita ingin orang peduli dengan lingkungan hidup, maka foto kita harus bisa memotivasi orang-orang untuk go green dan seterusnya.
Singkatnya, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan supaya foto kita bagus:
1. Apakah foto memiliki ide/cerita/makna?
2. Apakah terang gelap / exposure foto sesuai?
2. Apakah komposisi foto sesuai?
3. Apakah pilihan pencahayaan tepat?
4. Apakah timing saat menjepret tepat?
Intinya, foto yang bagus itu subjektif karena niat setiap fotografer berbeda, demikian juga penikmat foto/audiensnya. Foto yang menurut sebagian orang bagus belum tentu menarik bagi kelompok yang lain. Maka itu, jangan terlalu kuatir dan terus berlatih.
kampung-khleang
Foto ini menggambarkan keceriaan anak remaja di kampung terapung di danau Tonle Sap. Secara komposisi menempatkan subjek utama ditengah. dan juga menyertakan sedikit latar belakang/lingkungan untuk memberikan kesan tempat. Kepala perahu disebelah kanan atas dan tiang-tiang rumah panggung mengarah ke anak tersebut. Hujan deras memberikan kesan tersendiri dan konversi hitam putih membuat fokus mata kita tertuju kepada ekspresi anak tersebut.

Foto tengah malam (Night Photography)


Untuk mendapatkan foto pemandangan yg menarik, seringkali kita harus memotret di saat yang tidak lazim, misalnya tengah malam atau menjelang pagi.  Foto ini diambil sebelum matahari terbit, sekitar jam 4.45 pagi.
diAmbil mengunakan tripod sehingga saya dapat mengunakan shutter speed lambat tanpa menyebabkan kamera goyang. Selanjutnya, shutter yang lambat memungkinkan bukaan yang kecil dan iso yang rendah. Kualitas foto pun optimal dengan setting ini.
Kamera DSLR yang memiliki fitur live view (kamera DSLR keluaran  empat  tahun belakangan ini biasanya sudah ada fitur ini) dapat membantu untuk mengkomposisikan foto, misalnya mengatur supaya garis cakrawala lurus dan live view juga membantu untuk manual fokus yang akurat. Di kegelapan memang agak sulit mengandalkan auto fokus kamera.
Candi Borobudur di pagi hari
Foto diatas di buat dengan setting ISO 200, f/8, 20 detik, 16mm, Nikon D700. Di buat saat bulan purnama di malam Waisak yang bersinar dengan terang sekali.
Selamat hunting!

Tren kamera dan lensa 2012

Awal tahun ini cukup banyak kamera dan lensa baru yang diumumkan. Dari sana, kita bisa melihat tren kamera dan lensa untuk tahun ini dan kedepannya. 1. Teknologi sensor foto semakin meningkat
Seiring dengan waktu berjalan, resolusi foto meningkat. Contohnya Kamera DSLR Nikon, dari 12 MP (2008) menjadi 16 MP (2010) , 24 & 36 MP (2012). Produsen lain juga perlahan-lahan meningkatkan resolusi fotonya seperti Panasonic dan Olympus yang bertahan cukup lama di kisaran 12 MP kini menjadi 16 MP. Hanya Canon yang masih agak berhati-hati dan bertahan di 18 MP dan 22 MP.
Peningkatan resolusi foto juga diimbangi dengan teknologi peredam noise sehingga di ISO tinggi, kualitas foto sedikit lebih baik dari kamera pendahulunya. Ada juga desain sensor tanpa filter AA yang digunakan oleh Fujifilm yang dinamakan teknologi Fuji X-Trans, dan Nikon D800E, yang meningkatkan ketajaman foto. Cocok untuk foto pemandangan atau studio.
Peningkatan kualitas sensor foto ini tentunya kabar yang menggembirakan. Namun untuk memanfaatkannya secara maksimal, kita membutuhkan lensa yang lebih bagus juga. Jika tidak, kualitas foto tidak tajam.
2. Teknologi lensa dioptimalkan untuk video
Lensa-lensa yang dikenalkan belakangan ini sudah cepat dan tidak berisik saat fokus. Selain itu, ada beberapa lensa yang memiliki fitur zoom dengan tuas secara elektronik seperti lensa Panasonic X 14-42mm,, 45-175mm dan Olympus 12-50mm f/3.5-6.3 . Dengan mengunakan teknologi seperti ini, saat merekam video, zoom lensa akan jauh lebih mulus dan tidak bersuara. Kedepannya, mungkin akan lebih banyak lagi lensa yang dioptimalkan untuk merekam video.
Olympus 12-50mm memiliki fitur yang cukup lengkap: Power zoom, macro, tahan air&debu. Cocok untuk foto atau video
3. Konektifitas Internet
Di era kehidupan serba terhubung ke internet ini, kamera DSLR sebenarnya sudah cukup ketinggalan dalam hal konektivitas dibanding ponsel. Di awal tahun 2012, kita mulai melihat beberapa produk yang memiliki fitur WiFi yaitu Nikon D3200 (dengan adapter), dan generasi baru Samsung NX (NX1000, NX20, NX210). Fitur ini memungkinkan kita untuk upload foto langsung dari kamera ke internet / media sosial (facebook, flickr, instagram dll).

Tips Dasar Belajar Fotografi untuk Pemula

fotografi pemula

Tips Dasar Menguasai Fotografi Untuk Pemula


Ada anggapan bahwa hobi terhadap seni fotografi hanya untuk golongan tertentu (menengah ke atas). Dahulu Anggapan tersebut mungkin ada benarnya. Hal ini terkait dengan mahalnya harga unit kamera SLR (Single Lens Reflect), aksesoris serta penggunaan media film dalam operasionalnya. Namun saat ini anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar, mengingat hasil foto tidak lagi disimpan dalm film, namun dalam storage berupa file-file, sehingga jauh lebih murah dalam proses pencetakaannya. Selain itu, harga kamera-kamera DSLR (Digital Single Lens Reflect) semakin terjangkau. Jadi, fotografi bukan hanya untuk kalangan tertentu, fotografi adalah untuk semua kalangan. Untuk itu berikut ini tips dasar fotografi untuk pemula yang ingin memulai menekuni seni fotografi: 1. Kamera. Perangkat Kamera merupakan senjata utama dalam seni fotografi. Saat ini beberapa perusahaan telah mengeluarkan produk-produk yang sangat custom, mulai dari paket yang dijual untuk kelas pemula, seperti Nikon D40 hingga kelas profesional seperti Canon EOS 5D Mark II. Sehingga range harganyapun menjadi lebih lebar. Namun bagi Anda yang belum mampun membeli kamera, bisa diakali dengan meminjam ataupun patungan. Syarat dasar keberadaan perangkat ini dimaksudkan untuk memudahkan anda dalam mengenal dan mempraktekan teknik-teknik dasar fotografi.

2. Pengenalan Teknik Dasar. Teknik-teknik dasar yang wajib Anda kuasai sebagai langkah awal anda menekuni seni/hobi fotografi adalah Deep Of Field (DOF), Silhouette, Backlight, Foto Outdoor (ideal dilakukan antara pukul 07.00 – 10.00), Komposisi.
3. Wawasan. Untuk lebih mengikuti perkembangan teknik fotografi, ada baiknya anda selalu meng-update wawasan anda melalui majalah, pameran serta komunitas fotografi (misalnya: www.fotografi.net)

4. Praktek. Semakin tinggi jam terbang anda dalam menggunakan kamera anda, semakin handal foto-foto hasil bidikan anda. Anda bisa melakukannya dengan hunting ke obyek-obyek yang berbeda supaya tidak membosankan, seperti bangunan kolonial/tradisional (composition), sawah/pedesaan (landscape), pasar (human interest) atau pantai (silhouette)

Banyak sekali artikel tentang fotografi, tapi yang bisa Belajar dan cari teman didunia fotografi
cuma ada di website... www.ayofoto.com 

Foto editing bagaimana yang bagus?

Sebagian foto yang tersebar di internet sudah melalui proses edit foto, biasanya melalui software pengolah foto seperti Adobe Photoshop. Lalu bagaimana edit foto yang baik dan benar? Karena foto editing ini seni, maka gak ada yang benar dan salah. Tapi tentunya ada juga editing yang lebih enak dilihat dan ada yang melewati batas kewajaran dan tidak begitu enak di pandang.
Setiap orang memiliki motivasi yang berbeda-beda untuk mengedit foto. Bagi saya editing itu bertujuan untuk :
  1. Memperbaiki foto yang ada mungkin karena kamera dan lensa kita tidak bisa menangkap foto dengan baik. Misalnya lensa foto kita kurang tajam, atau perbedaan terang-gelap yang terlalu ekstrim sehingga tidak bisa ditangkap dengan baik oleh sensor kamera
  2. Membuat suasana/mood yang berbeda, misalnya membuat mood terkesan tua, suram, atau sebaliknya, semangat, antusias, heboh dan lain lain
  3. Membuat orang yang melihat foto kita fokus ke satu subjek daripada subjek yang lain atau latar belakang
Soal batasan, setiap jenis fotografi memiliki batasan-batasan tertentu, ada yang longgar, ada yang cukup ketat.
Jenis fotografi yang memiliki aturan ketat adalah fotojurnalisme, dimana seorang fotografer harus menampilkan foto apa adanya sesuai realitas yang ada. Tapi ada juga jenis fotografi komersial yang justru mengunakan editing dan manipulasi foto untuk mendapatkan foto yang diinginkan. Fotografi komersial seperti untuk iklan. Manipulasi foto justru dianjurkan karena efisiensinya.
Contohnya daripada harus membawa model ke pantai, atau lokasi tertentu, maka fotografer komersial akan foto subjek tersebut di studio dan kemudian di gabungkan dengan foto pantai sebagai latar belakangnya. Hal ini menghemat ongkos, tenaga dan waktu.
Untuk foto travel / jalan-jalan, editing yang sukses adalah bisa memberikan kesan suasana atau mood tertentu. Misalnya foto bangunan kuno biasanya lebih bagus dan dramatis bila saturasi warnanya rendah atau monokrom. Bila kita foto acara budaya dengan pakaian tradisional yang berwarna-warni, maka editan dengan saturasi tinggi tentunya lebih cocok.
Bangunan kuno di Italia oleh Joshua Brown mengunakan warna monokrom dan sedikit warna coklat / sepia untuk memberikan kesan tua.
Bangunan kuno di Italia oleh Joshua Brown mengunakan warna monokrom dan sedikit warna coklat / sepia untuk memberikan kesan tua.
Untuk foto portrait/model, editan yang bagus mempertimbangkan karakter subjek yang difoto, dan keseluruhan suasana foto baik subjek maupun latar belakangnya.
Sebenarnya bebas-bebas saja dalam mengedit foto, yang penting editan kita harus bisa memperkuat foto kita dan mengambarkan suasana/mood yang sesuai. Bila tidak, foto yang sudah baik malah menjadi tidak begitu baik dan membingungkan.
Setiap foto juga membutuhkan perlakuan yang berbeda, kita tidak bisa memaksakan perlakuan yang sama untuk semua foto dan mengharapkan mendapatkan foto yang bagus. Bagi fotografer pemula yang kurang pede, yang penting jangan terjebak dengan tren edit gaya tertentu dan ikut-ikutan. Kita punya pilihan untuk mengedit sesuai indentitas kita dan mengembangkan gaya sendiri.
Oke, daripada saya berteori ria terus, mari kita lihat contoh-contoh editan hehe
Gambar langsung dari kamera terlihat sangat kontras dan banyak detail langit yang hilang karena pengambilan foto dilakukan di siang bolong
Gambar langsung dari kamera terlihat sangat kontras dan banyak detail langit yang hilang karena pengambilan foto dilakukan di siang bolong
Di dalam proses editing, saya mengembalikan detail langit, menerangi bagian dalam kelenteng yang terlalu gelap, mengurangi saturasi warna dan memberikan sedikit sentuhan warna kuning dan hijau. Tujuannya adalah memperbaiki foto yang terlalu kontras dan memberikan suasana adem dan kesan tua.
Di dalam proses editing, saya mengembalikan detail langit, menerangi bagian dalam kelenteng yang terlalu gelap, mengurangi saturasi warna dan memberikan sedikit sentuhan warna kuning dan hijau. Tujuan editing untuk foto ini adalah memperbaiki foto yang terlalu kontras dan memberikan suasana adem dan kesan tua.
Editing foto memberikan kesan yang berbeda pada foto portrait, perhatikan kedua foto dibawah ini
Foto yang diambil dan di edit Harianto Keng ini, memiliki saturasi warna yang relatif rendah. Fokus orang yang melihat langsung ke model yang merupakan bagian yang paling terang. Latar belakang yang kabur juga membantu fokus kita ke model. Warna putih memberikan kesan murni dan tidak berdosa seperti bidadari yang turun dari langit. Mungkin itu yang ingin disampaikan Harianto
Foto yang diambil dan di edit Harianto Keng ini, memiliki saturasi warna yang relatif rendah. Fokus orang yang melihat langsung ke model yang merupakan bagian yang paling terang. Latar belakang yang kabur juga membantu fokus kita ke model. Warna putih memberikan kesan murni dan tidak berdosa seperti bidadari yang turun dari langit. Yang kurang dari foto ini mungkin sayapnya aja. Mungkin itulah kesan yang ingin disampaikan Harianto
Model yang sama di foto dan di edit oleh fotografer berbeda, Hendra Susanto, memberikan kesan yang berbeda, saturasi warna foto ini relatif tinggi, membuat model foto terlihat lebih dominan, aktif dan agresif. Warna merah pada rambut yang terlihat menonjol merepresentasikan jiwa pemberontak. Hanya yang disayangkan, bila warna bajunya merah, tentuya lebih melengkapi suasana foto yang ingin disampaikan Hendra
Model yang sama di foto dan di edit oleh fotografer berbeda, Hendra Susanto, memberikan kesan yang berbeda, saturasi warna foto ini relatif tinggi, membuat model foto terlihat lebih dominan, aktif dan agresif. Warna merah pada rambut yang terlihat menonjol merepresentasikan jiwa pemberontak. Komposisi foto satu badan menonjolkan keseksian daripada karakter/kepribadian. Hanya yang disayangkan, bila warna bajunya merah, tentunya lebih melengkapi suasana foto yang ingin disampaikan Hendra
Dari contoh diatas, kita bisa melihat dari satu foto model yang sama di komposisikan berbeda dan di edit dengan gaya yang berbeda. Yang mana yang terbaik tergantung dari apa yang ingin disampaikan fotografernya.

Belajar Fotografi Pemula??

Pada dasarnya sama seperti belajar ilmu-ilmu yang lain , perlu pengetahuan dasar lalu praktek . Porsi praktek harus lebih banyak dibanding porsi untuk mempelajari teori teknisnya . Dan dua-duanya sebaiknya dijalani secara paralel . Baca praktek baca praktek baca praktek baca …

Apa yang harus dipelajari ? Secara garis besar , menurut saya sih cuman dua . Teknis dan Komposisi .

1. Teknis ? adalah memahami kamera dalam cara kerjanya menangkap cahaya untuk direkam. Tidak kamera saja sih , tapi tercakup juga aspek lain dari asesoriesnya , proses pencetakan , editing dll. Intinya hal yang berbau teknis .
Di fotografi , lumayan banyak istilah teknis yang dipakai . Belum lagi setiap vendor memiliki nama-nama yang berbeda untuk sebuah teknologi . Banyak ! tapi jangan terlalu diambil pusing . Belajar memang seperti itu . Lambat laun , setiap istilah akan terkuak maknanya dan kita jadi lebih mengerti . Tetap konsisten belajar ! .Beberapa ilmu teknis diantaranya :
* mengenal kamera , lensa , sensor
* memahami exposure dan 3 elemen pentingnya : aperture , shutter speed , dan ISO / ASA
* memahami WhiteBalance (WB)
* asesories kamera dan fungsinya ( tripod , flash , lens filter dll )
* post editing ( photoshop etc )
* color management
* dll

2. Komposisi ? adalah bagaimana membuat / mengkomposisi sebuah obyek yang akan difoto menjadi menarik untuk dilihat . Banyak faktor yang bisa membuat sebuah foto menjadi menarik diantaranya ketepatan momen , warna , posisi obyek , ekspresi obyek dll . Sebisa mungkin kita mengumpulkan sebanyak mungkin faktor-faktor tersebut ke dalam sebuah foto . Masih bingung tentang komposisi ? mending baca aja langsung tip-tip mengenai komposisi di http://digital-photography-school.com/blog/category/composition-tips/.
Komposisi ini lebih ke cita rasa seni / art. Tidak ada aturan baku semacam user manual etc. Semata-mata tergantung dari rasa sang fotografer. Pesan apa yang akan dia sampaikan , dan apakah pesan itu sampai ke penikmat foto.

Teknis dan Komposisi ! kedua-duanya dibutuhkan untuk menghasilkan foto yang berkualitas . IMHO , pengetahuan akan komposisi lebih penting karena tidak akan pernah habis ide-ide untuk menghasilkan foto yang unik / berkualitas . Lain halnya pengetahuan teknis . Bisa mentog atau habis , bisa didapat dari User Manual atau tutorial yang ada . Penguasaan komposisi tidak mungkin diperoleh kecuali dari latihan jepret terus menerus . Melatih mata untuk melihat momen yang ada , menunggu waktu yang tepat , mem-visualisasi-kan target akhir yang kita inginkan dsb .
Namun pengetahuan teknis juga hendaknya tidak ditinggalkan . Istilahnya kita belajar mobil kita sudah tahu teorinya sehingga ketika berkendaraan sudah pakai feel , tinggal jalan. Begitupun dengan penggunaan kamera . Ketika momen bagus itu datang , jangan sampai hasilnya tdk optimal gara-gara setting kamera yang salah.

Sejarah Fotografi Indonesia

Tidak ada catatan tertulis yang mengatakan dengan tepat berapa jumlah Klub Foto Amatir di Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945 hingga terbentuknya: 1. G A P E R F I
Merupakan singkatan dari Gabungan Perhimpunan Seni Foto Indonesia, didirikan pada tahun 1953 dengan ketuanya Mayor R.M. Soelarko.
GAPERFI  adalah sebuah perhimpunan dari berbagai Klub Foto pada awal berdirinya di tahun 1953, memiliki anggota 7 Klub Foto. Pada tahun 1956 jumlahnya telah membengkak menjadi 13 Klub Foto yang berasal dari seluruh Indonesia.
Tanpa menemui halangan yang berarti, GAPERFI yang telah berhasil melakukan dua kali kongres pada tanggal 28 – 30 Oktober tahun 1955 di Semarang dan pada bulan Juli 1956 di Bandung, adalah murni merupakan gabungan dari seluruh perkumpulan atau klub foto di seluruh Indonesia.
Dalam usianya yang sangat singkat (1953-1957) GAPERFI sempat mengukirkan saat-saat bersejarah dan indah dalam dunia fotografi di tanah air kita, yaitu dengan mengadakan “Salon Foto Indonesia I” pada tahun 1956, atau yang dikenal dengan nama 1st International Photosalon of Indonesia. GAPERFI juga sempat menerbitkan majalahnya yang bernama “KAMERA” – Madjalah Untuk Penggemar Foto – yang mana telah terbit untuk pertama kalinya pada bulan Februari 1956. KAMERA adalah majalah “bulanan” foto pertama di Indonesia. Sayang hanya sanggup terbit sekali saja.
2. PAF BANDUNG
Sejarah Fotografi Indonesia mencatat bahwa Persatuan Amatir Foto (PAF) Bandung yang lahir pada jaman penjajahan kolonial Belanda yang berdiri pada tanggal 15 Februari 1924, jauh sebelum Perang Dunia II,  adalah sebuah Klub Foto Amatir pertama dan tertua di Indonesia. PAF menjadi anggota GAPERFI pada tahun 1954.

Pada tahun 1967 PAF menerbitkan buletinnya yang dikenal dengan namaBulletin PAF”, dicetak dalam bentuk stensilan. Diterbitkan guna memenuhi kebutuhan anggotanya akan informasi dan pengetahuan tentang fotografi.
Dalam sejarah Fotografi di tanah air, PAF Bandung mempunyai peran utama sebagai pencetus gagasan dan motor penggerak yang akhirnya melahirkan “FPSI” pada tahun 1973.
3. L F C N
Disamping PAF Bandung, ada lagi sebuah Klub Foto yang juga tergolong tua (nomor 2) di tanah air kita, yaitu Lembaga Fotografi Candra Naya (LFCN) yang didirikan pada tahun 1948 – saat itu bernama “Sin Ming Hui”. Klub Foto Candra Naya (dh.Tjandra Naja) merupakan salah satu bagian kegiatan dari sebuah Lembaga yang bergerak dalam berbagai bidang pendidikan dan sosial
Kelak di kemudian hari LFCN bersama-sama dengan PAF Bandung dan berbagai Klub Foto lainnya akan turut meletakkan tonggak yang bersejarah dalam pendirian sebuah Federasi Foto Nasional di Indonesia yang kemudian bergabung ke Dunia Fotografi Internasional.
Pada perkembangannya, Club Foto Candra Naya lah yang bertahan sampai sekarang..

4. MAJALAH FOTO INDONESIA (FI)
Dari sebuah gudang pribadi tempat penyimpanan arsip lama dan buku-buku tua, baru-baru ini diketemukan majalah foto terbitan tahun 1934 dengan namaDe Indische Foto Wereld”. Terjemahan bebasnya kira-kira adalah Dunia Foto Indonesia.
Majalah foto yang dicetak prima dan menggunakan sampul depan itu memuat tulisan dan foto-foto Indonesia  tempo doeloe. Dimana pada saat itu telah terbit dalam 2 bahasa, yaitu Belanda dan Melayu. Ini adalah majalah fotografi tertua di Indonesia. Selanjutnya setelah lama tidak ada kabarnya, pada tahun 1956 terbit majalah foto KAMERA keluaran GAPERFI yang hanya terbit sekali saja.
Kemudian terjadi kekosongan dalam dunia penerbitan majalah foto hingga akhirnya lahirlah majalah “FOTO INDONESIA” (FI) yang terbit perdana pada bulan Februari tahun 1969 – satu-satunya di Asia Tenggara pada masa itu.
Foto Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan patut mendapat tempat terhormat dalam Sejarah Foto di Indonesia karena peran dan posisinya yang sangat strategis dalam penulisan foto, dan juga meliput  pemberitaan berbagai peristiwa foto di Indonesia dan dunia. Sejalan dengan misi dan tujuannya sebagai media informasi foto nasional satu-satunya di masa itu, Foto Indonesia berusaha mengembangkan berbagai penulisan yang bermutu tinggi dalam hal teknis foto, sejarah foto dan juga berbagai catatan kejadian foto.
Foto Indonesia secara “tidak sengaja” telah turut mempromosikan berbagai tokoh dan calon tokoh foto Indonesia untuk waktu itu, dan kemudian hari. Bahkan pernah mengusulkan pembentukan Indonesia Photographic Society beberapa tahun sebelum lahirnya FPSI.
Sangat disayangkan bahwa Foto Indonesia yang memiliki dedikasi tinggi terhadap dunia foto di tanah air ini akhirnya harus berhenti terbit pada tahun 1986, dikarenakan berbagai masalah intern, maupun ekstern yang tidak terhindarkan. Sementara mantan Pemimpin Redaksi dan beberapa penulisnya tetap aktif berkarya dalam berbagai penulisan dan kegiatan foto di media informasi dan cetak nasional maupun di penjurian pameran ataupun lomba foto.
Masa-masa Bertahan Hidup
Setelah GAPERFI memudar dan akhirnya hilang perlahan-lahan, maka kegiatan dunia fotografi di tanah air seolah hidup segan mati pun tidak mau. Suasana politik dan ekonomi dalam negeri yang tidak stabil pada masa itu (1956 – 1966), seolah membuat kegiatan masyarakat foto nasional nyaris lumpuh. Tidak ada kegiatan lomba maupun pameran foto yang berarti atau pantas dicatat selama kurun waktu itu.
Prof.DR.R.M.Soelarko dalam tulisannya di Bulletin PAF nomor 57-1973 – Siap Menghadapi Salonfoto dan Kongres Fotografi - mengatakan bahwa tahun-tahun setelah GAPERFI -1956-1966 – adalah masa-masa survival. Beruntunglah setelah tahun 1966 keadaan berangsur-angsur pulih dan kegiatan dunia foto nasional mulai menggeliat kembali. Setelah berhasil melewati masa-masa sulit, akhirnya mereka dapat menghasilkan beberapa kegiatan, dimana diantaranya adalah sebagai berikut :
-          Pada tahun 1967 PAF Bandung menerbitkan Buletin-nya (stensilan) yang pertama.
-          Kemudian disusul dengan terbitnya Majalah Foto Indonesia (FI) pada bulan Februari tahun 1969.
-          Sementara itu berbagai Klub Foto mulai memperlihatkan kegiatannya yang positif dan menggembirakan.
Sedemikian rupa keadaannya, sehingga kebutuhan akan adanya suatu Wahana Foto Nasional mendesak untuk segera diwujudkan.
5. PEMBENTUKAN SEKRETARIAT BERSAMA (SB)
Pada tahun 1970-an sekelompok penggemar fotografi yang memiliki idealisme dan kepedulian tinggi terhadap perkembangan dunia fotografi di tanah air, telah melahirkan gagasan untuk membentuk suatu wahana yang dapat mengakomodasikan seluruh kegiatan foto di tanah air. Tujuannya tidak sekedar untuk penyaluran hobi atau berekreasi saja, tetapi lebih dilandasi pemikiran yang berwawasan jauh, luas serta mendalam. Yaitu suatu keinginan untuk menjadikan Fotografi Indonesia, dengan segala dinamika dan romantikanya, menjadi bagian dari Keluarga Foto Internasional sekaligus mengangkat citra Indonesia.
Karena sudah tidak tahan lagi, segera disusun dan dibuat beberapa kali pertemuan. Akhirnya tercapai kesepakatan untuk membentuk sebuah komite yang bersifat sementara dan dinamakan “Sekretariat Bersama” (SB). Dimana tugas SB ini adalah menghubungi dan mendaftar semua Klub Foto yang ada di Indonesia untuk bergabung dan melaksanakan Musyawarah Nasional guna pembentukan sebuah wahana foto nasional.
6.  F P S I
Akhirnya, setelah melalui serangkaian kerja keras, pada tanggal 28-29 Desember 1973 SB yang mengkoordinir perkumpulan-perkumpulan Foto se Indonesia menggelar Musyawah Nasional-nya selama dua hari bertempat di Taman Ismail Marzuki – Jakarta.

Munas yang dihadiri oleh 8 Klub Foto dari seluruh Indonesia itu (sisanya membuat pernyataan mendukung – apapun hasil Munas), akhirnya melahirkan sebuah wahana foto nasional yang bernama Federasi Perkumpulan-perkumpulan Senifoto Indonesia atau disingkat FPSI dalam bahasa Inggrisnya Federation of Photographic Societies Indonesia. Sekaligus mengangkat Ketua-nya yang pertama, yaitu Prof.DR.R.M.Soelarko dan Wakil Ketua A.Muhamad dengan Bendaharanya Djohan Tirtadjaja.
Dengan lahirnya FPSI yang merupakan puncak kegiatan dan prestasinya, otomatis SB yang bersifat sementara dan sudah bekerja maksimal dan optimal selama 2 tahun itu kemudian dibubarkan.
7. SALON FOTO INDONESIA I (1973)
Mendahului terbentuknya FPSI, pada tanggal 27 Desember 1973 telah diadakan Resepsi Pembukaan (dengan penyerahan hadiah-hadiah) Salonfoto Indonesia 1973 oleh Bapak H.Adam Malik – waktu itu Menteri Luar Negeri RI – yang mempunyai kedudukan sebagai Pelindung Salon Foto (tidak untuk umum).

Selanjutnya Salon Foto Indonesia I (1973) berlangsung bersamaan dengan Musyawarah Nasional yang melahirkan FPSI, bertempat di Taman Ismail Marzuki juga (untuk umum). Patut diketahui bahwa koordinator dari penyelenggaraan Salon Foto Indonesia I ini adalah PAF Bandung dan Candranaya Jakarta. Salon Foto Indonesia tahun 1956 yang diselenggarakan oleh GAPERFI – 1st International Photosalon of Indonesia - diakui sebagai Salon Foto Indonesia.
Kemudian dalam kiprahnya, mereka telah sukses menyelenggarakan berbagai macam kegiatan, diantaranya yaitu:
  1. Munas yang ke XX pada tanggal 27-28 Oktober 2000, yang bertempat di Klaten.
  2. 2. Mempersiapkan Salon Foto Indonesia ke XXI, yang mana akan dilangsungkan di Bandung dengan tuan rumah PAF Bandung sebagai Pelaksananya.
Bergabungnya FPSI dengan FIAP
FIAP singkatan dari Federation Internationale de L’Art Photographique. FIAP merupakan Induk Organisasi dari berbagai Federasi dan Perkumpulan Foto Nasional yang ada pada setiap negara anggotanya dan secara teratur mengadakan kegiatan-kegiatan foto antar negara-negara anggotanya. Sebelumnya, bersamaan dengan dibentuknya SB, disusun pula rencana untuk bergabung dengan FIAP – yang segera direalisir begitu FPSI terbentuk.
Untuk merintis keanggotaan di FIAP, Ketua SB Prof.DR.R.M.Soelarko memerlukan waktu lebih dari 2 tahun mengadakan kegiatan surat menyurat dengan Ketua FIAP, Mr.van de Wijer. Akhirnya pada saat terbentuknya, FPSI langsung menjadi anggota FIAP yang berarti Fotografi Indonesia telah menjadi bagian dari Keluarga Foto Dunia yang diakui secara Internasional.